Padahal kurang lebih 4 jam sebelum Bapak saya meninggal saya masih nelp rutin mingguan, Bapak saya ngobrol dengan antengnya sama Tiara. Entah kenapa Tiara bilang gini, "Kakek, besok Tiara ke Bandung ya, mau ketemu Kakek, kangen Kakek". Memang akhirnya kita ke Bandung, tapi Tiara ge nemuin Kakeknya lagi....
Waktu saya tanya "Apa kabar Papih?? Beliau jawab sehat, kalo sakit pasti bilang-bilang sambil ketawa2 ceria."
Ketika saya tau Bapak saya meninggal di tempat pengobatan alternatif saya berusaha menenangkan keluarga untuk tidak suudzon, karena hal itu bisa menyebabkan kita tidak ikhlas dengan kepergian beliau. Alhamdulillah, kita ga terlanjur suudzon karena pada akhirnya kita tau bahwa Bapak saya meninggal karena serangan jantung. Jadi pagi itu, Ibu saya kebetulan sedang keluar. Bapak saya juga ga bilang kalo mau olahraga jalan kaki rutin ke tegalega. Kalo denger dari cerita para saksi. Tampaknya setelah jalan kaki, Bapak saya mulai terasa ga enak sesak nafas. Mungkin yang terfikir oleh beliau yang terdekat dari area tegalega adalah tempat pengobatan alternatif pijat yang pernah beliau kunjungi setaun yang lalu yang berada di daerah Ciateul.
Menurut pemiliknya, ayah saya datang dengan muka pucat dan terlihat cape. Bapak saya bilang sesak nafas, ga enak badan. Jadi minta tolong untuk dipijit. Karena sedang ada pasien, pemiliknya meminta Bapak saya menunggu. Sambil menunggu, Bapak saya minta istirahat tiduran dengan meminta bantal 2 karena sesak nafas itu. Kembali memijat, terdengar Bapak saya meminta obat gosok(rheumason) sama anak si pemilik pengobatan karena pusing. Ketika si anak kembali membawa rheumason, Bapak saya sudah koma. Merasa takut disalahkan, pemilik pengobatan ini lapor ke RT dan menelpon polisi. Jadi Bapak saya dilarikan ke RS, oleh polisi ke RS Polisi. Namun sayang, nyawanya tidak tertolong, Bapak saya menghembuskan nafas terakhir beberapa menit sebelum sampe di RS. Itu berarti tanggal 6 januari kurang lebih pukul 12 siangan. Menurut Dokter Bapak saya kena serangan jantung, kecapean berolahraga dan mungkin udara sudah terlanjur panas. Memang tumben sekali, biasa pergi ke Tegalega jam 6 pagi, hari itu beliau baru pergi jam setengan 9 pagi.
Ketika saya tau Bapak saya meninggal di tempat pengobatan alternatif saya berusaha menenangkan keluarga untuk tidak suudzon, karena hal itu bisa menyebabkan kita tidak ikhlas dengan kepergian beliau. Alhamdulillah, kita ga terlanjur suudzon karena pada akhirnya kita tau bahwa Bapak saya meninggal karena serangan jantung. Jadi pagi itu, Ibu saya kebetulan sedang keluar. Bapak saya juga ga bilang kalo mau olahraga jalan kaki rutin ke tegalega. Kalo denger dari cerita para saksi. Tampaknya setelah jalan kaki, Bapak saya mulai terasa ga enak sesak nafas. Mungkin yang terfikir oleh beliau yang terdekat dari area tegalega adalah tempat pengobatan alternatif pijat yang pernah beliau kunjungi setaun yang lalu yang berada di daerah Ciateul.
Menurut pemiliknya, ayah saya datang dengan muka pucat dan terlihat cape. Bapak saya bilang sesak nafas, ga enak badan. Jadi minta tolong untuk dipijit. Karena sedang ada pasien, pemiliknya meminta Bapak saya menunggu. Sambil menunggu, Bapak saya minta istirahat tiduran dengan meminta bantal 2 karena sesak nafas itu. Kembali memijat, terdengar Bapak saya meminta obat gosok(rheumason) sama anak si pemilik pengobatan karena pusing. Ketika si anak kembali membawa rheumason, Bapak saya sudah koma. Merasa takut disalahkan, pemilik pengobatan ini lapor ke RT dan menelpon polisi. Jadi Bapak saya dilarikan ke RS, oleh polisi ke RS Polisi. Namun sayang, nyawanya tidak tertolong, Bapak saya menghembuskan nafas terakhir beberapa menit sebelum sampe di RS. Itu berarti tanggal 6 januari kurang lebih pukul 12 siangan. Menurut Dokter Bapak saya kena serangan jantung, kecapean berolahraga dan mungkin udara sudah terlanjur panas. Memang tumben sekali, biasa pergi ke Tegalega jam 6 pagi, hari itu beliau baru pergi jam setengan 9 pagi.
Ibu saya yang semua anaknya ga ada di Bandung, ketika mendengar berita itu panik, mencari tempat pengobatan tersebut. Setelah satu jam nyari, dan ketemu, Bapak saya sudah dilarikan ke RS. Sampe di RS Bapak saya udah ga ada. Itu yang menyebabkan Ibu saya cukup terpukul. Merasa tidak mendampingi di saat2 terakhir dan merasa kalo bisa menemukan tempat itu lebih cepat masih bisa menemani Bapak saya di saat2 terakhir. Tapi Alhamdulillah, akhirnya kita bsia meyakinkan bahwa itu sudah kehendak-Nya. Subhanallah... memang kita ga pernah tau kapan dan bagaimana seseorang akan meninggal, termasuk kita sendiri.
Hari itu Kakak2 saya baru dateng Sabtu jam 4 sore dan jam 11 malem. Saya sendiri baru dapet tiket hari Senin dan sampe Bandung Rabu. Saya memang yang tidak sempat melihat Bapak saya untuk terakhir kali sebelum pemakaman. Tapi lebih dari itu, yang lebih penting saat itu adalah menenangkan ibu saya dan mengurus hal-hal yang perlu diurus untuk kepentingan ibu saya, sebelum anak2nya kembali pulang. Saya sendiri hanya bisa 8 hari berada di sana, karena sebelumnya kita sudah mengambil cuti panjang.
Mm..... betul2 saya tersentak. Itu adalah sebagian dari resiko hidup di negeri orang jauh dari orang tua. Siapa yang mengira liburan kemarin di Indo bersama keluarga adalah terakhir kalinya saya ketemu sama Bapak saya. Karena 3 minggu kemudian baru saja kami kembali ke Houston, beliau dipanggil oleh-Nya. Tapi, balik lagi, lebih dari itu banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil.
Pertama, umur adalah salah satu rahasia-Nya. Ketika saya dan keluarga pasrah meninggalkan Bapak mertua yang sakit keras ketika kembali dari liburan yang lalu. Ternyata Bapak saya yang sehat, menemani saya liburan selama di Indo sampe menemani ke Bandara ketika saya akan pulang kembali ke Houston, beliau yang lebih dahulu di panggil. Itu berarti saya harus menyiapkan diri, mengumpulkan bekal untuk 'pulang', karena saya ga tau kapan saya akan diambil oleh-Nya.
Kedua, setelah Bapak saya meninggal, saya kembali mengingat2 apakah saya betul2 pernah meminta maaf dan berterimakasih kepada Beliau yang sudah merawat dan mendidik saya sampe seusia ini. Saya yakin ketulusan Bapak saya sebagai orang tua, Insya Allah ridho melakukan itu semua. Hanya saja saya jadi teringat kembali perkataan seorang teman, ketika orang tuanya meninggal. Berbaktilah semampu dan semaksimal mungkin yang kamu bisa kepada orang tua kamu ketika mereka masih hidup. Karena ketika mereka sudah meninggal yang bisa kita lakukan hanya mendoakan mereka. Sekarang, betul... saya hanya bisa mendoakan ayah saya dan Insya Allah mudah2an saya bisa berbakti kepada Ibu saya yang masih hidup.
Ketiga, amalan yang akan terus mengalir untuk Bapak saya adalah doa dan amalan anak yang sholeh. Mudah2an saya bisa memperbaiki diri saya untuk itu. Selain itu, itu juga tantangan bagi saya untuk mendidik Tiara jadi anak yang shalehah (mudah-mudahan..). Karena itu juga akan menjadi salah satu bekal ketika kita meninggal nanti. Keempat, saat Bapak saya meninggal, saya merasa kedekatan keluarga kami bertambah erat. Saya bersama kakak2 n sodara2 kompak saling membantu, pergi sama2 membereskan segala hal. Hal itu udah lama ga terjadi setelah kita berempat berkeluarga. Setiap liburan ketemu barengan, kita perrgi sama2 tapi masing2 sibuk dengan keluarga dan anak2nya sendiri yang masih krucil. Kemaren, karena kakak2 saya yang di Makassar ga membawa krucil (tiket dadakan tidak memungkinkan membawa rombongan), malahan membuat kami semakin dekat. Selalu ada hikmahnya..:-)
Saat ini saya hanya bisa mendoakan mudah2an Allah mengampuni dosa2 beliau, melapangkan alam kuburnya dan menjauhkan beliau dari siksa kubur. Sepanjang yang saya tau beliau adalah Ayah yang sangat baik dan sangat berbakti buat keluarganya. Mudah2an amalan2 baik beliau diterima di sisi-Nya. Amiin..., dan biarlah masa2 dulu hidup bersama beliau menjadi kenangan indah, buat saya, buat keluarga, buat Tiara juga yang waktu liburan kemaren sangat 'apet' sama Kakek:-). Selamat jalan ayahanda tersayang.... Love U so Much...
Kita memang ga ada yang menemani beliau disaat-saat terakhir beliau dipanggil oleh-nya. Bahkan ceritanya pun kita hanya mengetahui dari orang lain. Tapi Insya Allah kita ikhlas, mudah2an Ayah saya meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah. Amiin....
Temans, sekali lagi terimakasih buat support dan doanya. Ucapan belasungkawa yang terus berdatangan bahkan beberapa teman melayat ke rumah baik ketika saya belum datang maupun ketika saya sudah sampe di Bandung. Saya sudah kembali ke Houston tanggal 20. Tapi kemaren2 selain banyak yang harus dibereskan dulu di rumah, kondisi kami sekeluarga belum begitu fit, dan yang jelas si mood untuk ngetik2 di komputer belom muncul. Baru pagi ini saya betul2 buka blogspot:P.
C U di cerita yang lain.....:-)
Hari itu Kakak2 saya baru dateng Sabtu jam 4 sore dan jam 11 malem. Saya sendiri baru dapet tiket hari Senin dan sampe Bandung Rabu. Saya memang yang tidak sempat melihat Bapak saya untuk terakhir kali sebelum pemakaman. Tapi lebih dari itu, yang lebih penting saat itu adalah menenangkan ibu saya dan mengurus hal-hal yang perlu diurus untuk kepentingan ibu saya, sebelum anak2nya kembali pulang. Saya sendiri hanya bisa 8 hari berada di sana, karena sebelumnya kita sudah mengambil cuti panjang.
Mm..... betul2 saya tersentak. Itu adalah sebagian dari resiko hidup di negeri orang jauh dari orang tua. Siapa yang mengira liburan kemarin di Indo bersama keluarga adalah terakhir kalinya saya ketemu sama Bapak saya. Karena 3 minggu kemudian baru saja kami kembali ke Houston, beliau dipanggil oleh-Nya. Tapi, balik lagi, lebih dari itu banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil.
Pertama, umur adalah salah satu rahasia-Nya. Ketika saya dan keluarga pasrah meninggalkan Bapak mertua yang sakit keras ketika kembali dari liburan yang lalu. Ternyata Bapak saya yang sehat, menemani saya liburan selama di Indo sampe menemani ke Bandara ketika saya akan pulang kembali ke Houston, beliau yang lebih dahulu di panggil. Itu berarti saya harus menyiapkan diri, mengumpulkan bekal untuk 'pulang', karena saya ga tau kapan saya akan diambil oleh-Nya.
Kedua, setelah Bapak saya meninggal, saya kembali mengingat2 apakah saya betul2 pernah meminta maaf dan berterimakasih kepada Beliau yang sudah merawat dan mendidik saya sampe seusia ini. Saya yakin ketulusan Bapak saya sebagai orang tua, Insya Allah ridho melakukan itu semua. Hanya saja saya jadi teringat kembali perkataan seorang teman, ketika orang tuanya meninggal. Berbaktilah semampu dan semaksimal mungkin yang kamu bisa kepada orang tua kamu ketika mereka masih hidup. Karena ketika mereka sudah meninggal yang bisa kita lakukan hanya mendoakan mereka. Sekarang, betul... saya hanya bisa mendoakan ayah saya dan Insya Allah mudah2an saya bisa berbakti kepada Ibu saya yang masih hidup.
Ketiga, amalan yang akan terus mengalir untuk Bapak saya adalah doa dan amalan anak yang sholeh. Mudah2an saya bisa memperbaiki diri saya untuk itu. Selain itu, itu juga tantangan bagi saya untuk mendidik Tiara jadi anak yang shalehah (mudah-mudahan..). Karena itu juga akan menjadi salah satu bekal ketika kita meninggal nanti. Keempat, saat Bapak saya meninggal, saya merasa kedekatan keluarga kami bertambah erat. Saya bersama kakak2 n sodara2 kompak saling membantu, pergi sama2 membereskan segala hal. Hal itu udah lama ga terjadi setelah kita berempat berkeluarga. Setiap liburan ketemu barengan, kita perrgi sama2 tapi masing2 sibuk dengan keluarga dan anak2nya sendiri yang masih krucil. Kemaren, karena kakak2 saya yang di Makassar ga membawa krucil (tiket dadakan tidak memungkinkan membawa rombongan), malahan membuat kami semakin dekat. Selalu ada hikmahnya..:-)
Saat ini saya hanya bisa mendoakan mudah2an Allah mengampuni dosa2 beliau, melapangkan alam kuburnya dan menjauhkan beliau dari siksa kubur. Sepanjang yang saya tau beliau adalah Ayah yang sangat baik dan sangat berbakti buat keluarganya. Mudah2an amalan2 baik beliau diterima di sisi-Nya. Amiin..., dan biarlah masa2 dulu hidup bersama beliau menjadi kenangan indah, buat saya, buat keluarga, buat Tiara juga yang waktu liburan kemaren sangat 'apet' sama Kakek:-). Selamat jalan ayahanda tersayang.... Love U so Much...
Kita memang ga ada yang menemani beliau disaat-saat terakhir beliau dipanggil oleh-nya. Bahkan ceritanya pun kita hanya mengetahui dari orang lain. Tapi Insya Allah kita ikhlas, mudah2an Ayah saya meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah. Amiin....
Temans, sekali lagi terimakasih buat support dan doanya. Ucapan belasungkawa yang terus berdatangan bahkan beberapa teman melayat ke rumah baik ketika saya belum datang maupun ketika saya sudah sampe di Bandung. Saya sudah kembali ke Houston tanggal 20. Tapi kemaren2 selain banyak yang harus dibereskan dulu di rumah, kondisi kami sekeluarga belum begitu fit, dan yang jelas si mood untuk ngetik2 di komputer belom muncul. Baru pagi ini saya betul2 buka blogspot:P.
C U di cerita yang lain.....:-)





4 Comments:
Merinding deh denger ceritanya mom... aniwei Mudah2an semua keluarga yang ditingalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan.. Amiin
Aq juga punya beberapa teman yg ditinggalkan secara mendadak oleh orang2 yg dicintainya.. ada suami, ayah, anak... tapi memang Umur adalah rahasia Tuhan yg tdk pernah bisa ditebak oleh siapapun...
Makasih udah mau bagi2 cerita ya Mom... semoga sekeluarga cpt kembali fit, amiiinn
Bnr ya Mom..Begini nih dilema anak2 tinggal nyebar jauh dr ortu,pas ortu sakit/wafat kita ga sempet nengokin.. [hiks,jd berkaca2 deh aku inget sm Emak di kampung].Wkt bln Juli aku jg dikbrin bhw Ibu kena tumor otak, waaaah dunia rasanya runtuh dehh,itu mah ngedadak cari tiket..Seueur istighfar nya Mom..
Speechless, semoga Papih diterima di sisi Allah. Mamih dan keluarga semua tabah dan terus mendoakan. Dan semoga saya dan yang lain yang ikut membaca bisa belajar dari cerita Ijul.
semoga Ayah bunda diterima di sisiNya, aminn...
Tiara pa kabarnya? di tunggu cerita2nya yaaa...
Post a Comment
<< Home